Tuesday, August 14, 2012

Precious Holiday


Two posts a day? Not bad. These are how I spent my precious holiday: re-watch Harry Potter and read some fictional books and read fanfiction. Right now I'm busy with Harry Potter thing and damn, I dare to say, that Tom Felton and Daniel Radcliffe are so freaking hot! I intend to buy Harry Potter english version books, I need more kachings.




credit to owner

Sad news, Angel had moved to Bandung. She would spend her university's life in UNPAR. No more easy going girl friend, no more stay up late at her place, no more comics and DVDs source, no more. Anw, been hearing whispers recently? Whispers about SM TOWN concert on September 22nd in Jakarta? Angel and I wanna see the concert but the ticket's too expensive (500k IDR - 2.500k IDR) I'm sure my mom never allow me. FYI, the online sale ticket is open today! click here!

And I intend to buy a red velvet cake and strawberry cake and a white crop tee and SNSD light stick. Crap... Someone please change my credit card PIN before I waste my money!

edit: and when I just published this post, I intend to buy some clothes and shoes. Merde! here and  here!

I was...


Hallo, saya masih hidup! Sejujurnya blog ini isinya random banget. Jadi saya sudah menemukan hal yang mau saya post, nggak penting sih, yaitu teman sebangku saya saat SMP. Zaman SMP guru masih punya hak untuk mengatur tempat duduk kami, namanya juga masih SMP. Saya duduk sama seorang cowok yang datang dari luar Sumatera Utara. Dia lucu dan pintar, herannya kenapa peringkatnya selalu di bawah saya. Mungkin karena waktu itu saya terlalu mematuhi peraturan, jadi gadis yang baik di depan guru, rajin, dan manis. Yah manis (jangan muntah, please). Sedangkan dia, dia cowok, sedikit nakal, tapi baik, hidup untuk melanggar beberapa peraturan, dan tidak peduli dengan peringkat. Singkatnya, saya senang duduk bersamanya. Saya sering mengejeknya, memarahinya, mencubit lengannya (ya Tuhan ini terdengar memalukan), menasihatinya, dan bersikap seolah-olah saya yang paling baik. Tapi dia hanya tertawa, tersenyum, dan semacamnya. Saat ini saya yakin, saya ingin sekali memarahi saya yang dulu yang kelewatan sok perfect.

Saya nggak tahu mengapa akhirnya saya jadi selalu memperhatikannya. Saya ingin seperti dia, selalu tertawa dan bahagia. Dia punya 1 abang, 1 kakak, dan 1 adik perempuan yang benar-benar mirip dengannya. Dilihat dari fisik, dia nggak tampan. Jelek bisa dibilang tapi saya suka mata yang besar. Suatu hari saya pernah mencubit lengan atasnya, lalu dia kesakitan. Saya tahu dia berpura-pura tapi saya tetap ingin melihat bekas cubitan di lengannya. Saat saya pegang tangannya dan menaikkan lengan bajunya, ternyata lengannya biru! Ya ampun, saya langsung megap-megap. Saya langsung bilang “sorry, sorry. Maaf. Sakit ya?” dan semacamnya. Lalu dia tersenyum dan bilang “nggak apa-apa. Ini dicubit abangku.”  Saat itu saya nggak yakin dengan jawabannya, masa iya abang adek cubit-cubitan, kedengarannya aneh untuk cowok… Tapi karena saat itu pelajaran sudah dimulai, jadi saya biarkan saja.

Yah, saya jadi selalu memperhatikannya dan menjadi sedikit tertarik padanya. Saya tahu dia selalu sarapan roti, dia selalu memainkan jarinya di meja saat menyelesaikan soal aljabar, dan bahkan saya tahu dia mengganti seragamnya dua hari sekali (oh merlin, aku kedengaran seperti stalker). Bahkan saat pelajaran biologi, saat itu si guru sedang menjelaskan bakteri dan berakhir pada nasihat harus mengganti seragam tiap hari, saya tiba-tiba menunjuk mahluk manis (manis!?) di sebelah saya dan mengatakan dia tidak pernah mengganti seragamnya! Saya yakin teman-teman saya dan dia sendiri heran kenapa saya bisa tahu!! Saat itu saya hanya berharap muka saya nggak memerah sehingga tidak ada orang yang tahu kalau saya selalu memperhatikannya.

Dia ikut ekskul basket dan saya ikut paduan suara, yah tipikal orang sok perfect. Saya suka melihatnya pakai sepatu basket, entah kenapa kelihatannya dia jadi semakin dewasa. Guru sering menjodoh-jodohkan kami, tapi tetap saja dia hanya tersenyum dan tertawa! Saya benci melihatnya setenang itu menghadapi orang lain sedangkan wajah saya sudah merah dan panas, jadi semakin mudah diejekin. Sejujurnya dulu wajah saya mudah sekali memerah, untungnya sekarang nggak lagi. Asal orang-orang menjodohkan kami, saya selalu marah-marah nggak jelas dan menentangnya. Ya ampun please, diriku yang dulu, keep calm. Nggak tahu kenapa saya jadi senang sekali dan ingin loncat-loncat kegirangan tiap kali dekat dengannya. Namun, saya tetap benci padanya. Benci melihat dia selalu tertawa melihat tingkah saya, benci mengapa saat dia seperti itu dia terlihat jadi dewasa dan saya hanyalah anak-anak yang menjengkelkan.

Saya jadi merasa nyaman duduk di bangku itu, padahal awalnya saya menolak duduk bersamanya. Saya senang tiap kali pelajaran mulai dan saya tidak senang mendengar bel istirahat ataupun bel pulang karena berarti saya harus meninggalkan bangku itu. Saya senang menendangi kakinya saat pelajaran sedang berlangsung, saya senang mencoret bukunya dan tangannya, tapi saya tidak senang saat dia memberikan stipo pada jam tangan baru saya! Saat itu saya sedang asyik mencatat dan dia, yang duduk di sebelah kanan saya, mengambil tangan saya (saya memakai jam tangan di sebelah kanan dan saya bukan kidal) dan menghancurkan kesempurnaan jam saya! Saat itu saya mau menangis tapi dia langsung tertawa dan bilang “kan nggak apa-apa.sudahlah…”

Dia sedang tertawa dengan beberapa teman cowoknya di kelas. Lalu saya heran dan bertanya padanya apa yang lucu. Dia tidak memberitahu saya. Jadi saya bertanya pada teman yang lain. Lalu cowok yang figurnya seperti tiang listrik itu menjawab, “udahlah, liv, kau nggak perlu tahu. Nanti kau sakit jantung dengarnya.” Lalu mereka tertawa lagi dan aku semakin ingin tahu dan mendesaknya. Akhirnya dia menjawab, “si Rai suka samamu!” dan mereka tertawa. Saya heran, apa yang lucu. Apa saya begitu aneh untuk disukai orang lain? Saya nggak senang dia tertawa bahagia begitu.

Sebagai anak SMP yang normal, saya juga tertarik untuk mengejek-ngejek nama bapak orang. Sayangnya, nama bapak saya sudah tersebar duluan dan dia berhasil mengejek saya lebih dulu. Suatu saat, saya melihat dia membawa rapot dan meletakkannya di dalam laci meja dan saat istirahat, secepat ninja saya merogoh lacinya dan membuka rapotnya. Gotcha!

Suatu hari, wali kelas kami menukar tempat duduk lagi. Saya kesal karena saya pisah dengannya tapi yah… saya pura-pura senang akhirnya bisa pisah darinya. Sejak saat itu semuanya berubah. Dia tetap seperti dulu tapi saya tidak menghabiskan waktu dengannya sebanyak dulu. Semuanya semakin berubah saat kami naik kelas. Dia semakin jauh. Saya selalu berusaha mencari perhatiannya tapi yang ada malah saya jadi menarik perhatian orang lain! Kesal. Saat kelas 2, saya tahu ada beberapa orang yang diam-diam tertarik pada saya. Ada beberapa teman sekelas dan ada beberapa abang kelas. Kesal… Kenapa sih dia nggak termasuk yang beberapa itu! Lebih kesal lagi saat hari Valentine. Saya terus berusaha menarik perhatiannya tapi dia nggak sadar! Yang ada malah salah satu abang kelas berusaha mengejar saya (walau saya sudah berlari dan bersembunyi) dan memberikan saya coklat dan surat cinta, ieuh. Sialan, saya jadi nggak bisa tidur hari itu dan muka saya terus merah sampai-sampai dikira sakit.

Saat kelas 3, dia benar-benar jauh, bahkan tidak terjangkau (lebay). Saya tahu dia sedang mengincar adik kelas. Saya makin kesal dan sedih tapi tetap saja saya pura-pura senang. Kesal! Tiap kali adik itu lewat depan kelas, pasti teman-teman cowok yang lain menyebut-nyebut nama mantan teman sebangku saya ini. Darah saya benar-benar mendidih saat itu. Saya selalu ingin mencari perhatiannya tapi kenapa malah selalu orang lain kenapa bukan dia! Yang lebih mengesalkan lagi, dia berencana menyatakan ketertarikanya pada si adik ini saat acara perpisahan! Saya melihat dia berdiri di tangga gedung itu bersama adik itu dan beberapa sekutu mereka. Saya nggak sanggup melihat ke tangga dan saya harus menolak keinginan untuk mengasihani diri saya di kamar mandi. Selama di atas panggung, saya terus berpikir apakah adik itu menerimanya, apakah dia berhasil, dan akhirnya saya tahu dia tidak berhasil. Yes! Cerita saya ini berakhir dengan sad ending. Saat SMA, saya pindah ke sekolah lain dan dia tetap melanjutkan sekolahnya di sana. Yang saya tahu, adik kelas yang diincarnya itu sudah berpacaran dengan abang kelas kami. Syukurlah… Saat ini dia kuliah di luar kota dan saya tetap berharap untuk bertemu dengannya lagi walau kemungkinannya kecil. Saya nggak tahu saya masih tertarik dengannya atau tidak karena saat ini saya tidak merasakan apa-apa lagi setelah masa-masa indah saat SMP. Anw, Happy Birthday!