Wednesday, October 09, 2013

Falling

Hello, world. Here I am, skipping classes and typing word by word. All because I'm not in a good condition. Last Tuesday, after Auditing II class, I went home using public transportation aka angkot. Disitu aku udah kena hujan. Rabunya, aku masih pergi ke kampus dan merasa sehat-sehat aja. Rabu siang aku udah merasa meriang dan panas. Hari Kamis pagi aku pergi ke bidan dekat rumah (ya, aku kalo demam selalu pergi ke bidan dan entah kenapa selalu mujarab) untuk disuntik. Aku udah skip kelas etika dan berencana masuk jam 1 bersama omi yang pada saat itu juga sibuk mengurus adiknya yang sedang opname gara-gara tifus. Setelah di kampus aku merasa lemas sekali, ingin muntah, dan tiba-tiba tanganku dingin. Di tengah perkuliahan, aku permisi sama dosennya untuk pulang ke rumah. I would never leave my pride scattered on the floor. Kalo pingsan di kampus bisa malu aku. Jadilah aku hari kamis itu hanya isi absen ke kampus.

Untungnya hari jumat ngga ada kuliah dan aku bisa berisitirahat di rumah. Jumat sampai sabtu aku merasa baik-baik saja. Bahkan hari sabtu aku sempat ke kampus untuk masuk kelas advanced dan aku bertahan sampai kelas selesai. Until the Sunday came. Hari minggu tengah hari aku mendadak panas lagi. Aku paksakan pergi ke gereja sama keluarga terus pas pasang AC di mobil aku kedinginan. I was not that type of person. Aku suka sekali sesuatu yang dingin, kalo kedinginan hanya gara-gara AC udah jelas ada yang ga beres ini. Hari Senin aku kembali agak hangat. tengah hari aku udah merasa baikan dan terpaksalah aku juga skip 2 mata kuliah hari itu.

And the funniest day, most hectic day, came... Tuesday. Aku beranikan diri ke kampus karena ada rapat yang harus kuhadiri. Aku pergi ke kampus bareng Dian. Selama di dalam mobil, I wasn't feeling so good. Mual gitu. Si Dian malah nakuti pula kalo tifus itu bisa berlanjut ke liver (at first, aku mendiagnosa sendiri kalo aku kena tifus atau dbd). Aku makin takut dan terus berdoa kepada Tuhan supaya bisa melewatkan satu hari ini dengan aman. Karena merasa ngga nyaman juga, begitu Naomi masuk ke kelas aku langsung ajak dia ke klinik di pasar 7 (klinik temapt adiknya berobat). Disitu aku tes darah dan bayar Rp 110.000. Kakak-kakak yang memeriksaku bilang kalau suhu badanku normal (memang aku agak berlebihan bilang demam). Setelah menelepon abangku dan menunggu berjam-jam, hasilnya keluar. Disitu dinyatakan aku positif DBD dan Gejala Tifus. Trombositku hanya 67.000 dan leukositku 12.600 (normalnya 5000-10000). Dikatakan juga aku terkena infeksi gegara leukosit berlebihan. Aku down. Aku lapar dan ga selera makan dan mual dan pingin muntah dan pingin pingsan aja. Abangku sibuk menelpon ortuku untuk membawaku ke rumah sakit elisabeth. Sedangkan omi berusaha menghiburku. Pikiranku ngga jernih. Biasanya kalo leukosit berlebihan ada kemungkinan terbentuknya kanker. Belum lagi aku dinyatakan positif DBD. Aku sibuk liatin kaki tanganku mana tahu ada bintik-bintik merah. Memang ngga ada tapi kata orang yang memeriksaku DBD ga mesti ada bintik-bintik merahnya. Down. Drop. Drown.

Setelah menunggu 20 menit taxi yang ditelfon abangku datang dan abangku bilang kalo mama & papa udah otw ke rs. Aku naik taxi sama omi. Supir taxinya sibuk nanya ngapain ke elisabeth bla bla. Aku bilang kalau aku mau dirawat, aku kena dbd. Dia malah ketawa ga percaya. Selama di taxi Omi nyuruh aku makan sedikit roti biar ada tenaga tapi aku tetap ngga mau. Kalau aku makan aku pasti muntah. Sesampainya di rs, aku dan Omi langsung ke masuk ke IGD dan nanya sama susternya gimana prosedur segala macam. Susternya nanya siapa yang mau dirawat, lalu aku jawab kalo aku sakit. Dia malah kayak ga percaya gitu (geez, peope who work in hospital these days...) Pas ke klinik umum mau periksa, suster 1 lagi juga ga percaya aku mau diopname katanya harus ada rujukan dokter dulu. Disitu aku dan Omi nunggu ortuku dan aku bertahan sebisa mungkin. Aku benar-benar lemas karena kelaparan dan mual. Begitu mamaku datang, susternya baru percaya dan segeralah aku dimasukkan ke ruangan.

Suhu badan diukur, katanya suhuku cuma 37,5 C, darahku diambil untuk diperiksa lagi, tekanan darah juga diukur. Lalu aku menunggu sampai hasil lab keluar. Mamaku udah sibuk nyuruh aku makan tapi aku masih merasa mual. Akhirnya aku paksakan makan walaupun hanya sedikit yang penting ada kekuatan. Setelah perut terisi sedikit demi sedikit, aku merasa lebih baikan. Lalu aku menyuruh Omi untuk baik ke kampus karena kami masih ada kelas Auditing II dan ada tugas yang mesti dikumpul.

Setelah hasil lab keluar, dokter bilang ke papaku kalau hasil tesku normal, bahkan bagus. Trombositku 270.000, leukosit 9,9 (range 3,6 - 11,0), Ig G dan Ig M negatif (-), IgM Anti Salmonella Typhi 2. Aku langsung ga percaya dan menyuruh papaku menunjukkan hasil lab dari klinik tadi terus menjelaskan keluahanku selama ini. Dokter bilang aku hanya kecapekan, jam makan tidak teratur, kekurangan cairan, sering tidur malam, masuk angin. Kalau demamku memang sudah turun, akunya saja yang berlebihan.

Dokternya juga pas periksa nanya gini "mual? baru hari ini dok mualnya. kepala pening? ngga. kerongkongan sakit? ngga. buang air kecil dan besar lancar? lancar dok. gusi berdarah? sebelum saya sakit gusi saya emang lemah dok, jadi sering berdarah."

Akhirnya kami keluar dari rs itu dan aku mau diopname di rs columbia asia (rs rujukan dari kantor papa eke). Terus akhirnya papa bilang kalo sakit lagi baru diopname, jadi searangpulang aja, kecuali aku mau darahku yang udah dikit diambil lagi. Jadi sekarang aku kembali ke rumah dan tidak kuliah, mencoba makan dengan normal dan sehat.

dan inilah sedikit hiburan yang bikin kemarin malam menyenangkan:





dan saat mereka sadar mereka dibohongi (padahal nggak maksud untuk ngerjain):