Sunday, December 20, 2015

Too lazy to think a title

Saya bisa gila. Jika melihat suasana dalam kehidupan seperti ini saya memang bisa gila. Kekacauan, penderitaan, tekanan, kekecewaan, kesedihan, semua amarah dan air mata yang tertahan selama bertahun-tahun, selalu meluap dengan debit yang sangat banyak setiap akhir tahun. Saya merasa bodoh selalu menangis sendirian kemudian bangkit seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Lingkaran setan sialan. Saya bahkan merasa bodoh dengan membuat setiap janji-janji kepada diri saya yang hanya saya dan Tuhan yang tahu. Saya khawatir saya bisa gila atau saya sudah menjadi gila.

Namun terkadang, seperti saat ini, saya merasa benar jika menangis, saya merasa cerdas saat saya kembali mengulangi janji-janji tersebut kepada diri saya. Saya tidak tahu mengapa setiap saya memutuskan untuk menyerah, hidup sesuka saya, menjadi arogan,  melepaskan semua nilai kebenaran, selalu saja ada secuil ingatan yang terbersit dalam pikiran saya. Entah ingatan apapun itu yang membawa saya secepat kilat, menyadari bahwa ada sesuatu yang tak terbatas dalam hidup saya, ingatan yang menunjukkan bukti dari hal yang tidak dapat dijelaskan, ingatan yang menghangatkan hati. Jika saya boleh jujur, saya benci jika hal ini terjadi karena hal ini hanya membuat saya kembali ke dalam lingkaran setan dan fase kehidupan yang membosankan itu, saking bencinya saya selalu berusaha mengabaikan ingatan yang absurd itu. Setelah otak saya kembali berfungsi dengan normallah saya menyadari bahwa ingatan itu seperti cahaya dalam terowongan yang membantu saya mencari ujung terowongan itu. Jika saya terus-terusan menolak cahaya itu masuk, saya bisa tersesat dalam kegelapan. Saya benar-benar bisa kehilangan moral bahkan kepercayaan.

Untungnya ada satu lagi bagian yang tersisa dari diri saya yang membuat saya menggantung di limbo (lagi-lagi limbo), bagian yang saya syukuri dari diri saya, bagian yang selalu memberontak. Bahkan dia, yang ada dalam diri saya sendiri, memberontak bagian lain yang notabenenya sama dengannya. Bagian dari diri saya ini tidak suka menyerah, yang mendoktrin bahwa menyerah hanya untuk orang lemah, dan jelas saja sebagian dari diri saya tidak suka diremehkan apalagi dibilang lemah. Bagian inilah, walaupun biasanya saya benci namun kadang-kadang saya sukai, yang membantu saya mengumpulkan pikiran-pikiran yang benar yang akan digunakan untuk memperkuat pengendalian diri saya. Bagian inilah yang menyuruh saya bertahan seburuk apapun keadaan saat ini, bagian ini adalah bagian yang mungkin sedikit masokis, disakiti namun semakin bergairah. A good rebel indeed.

Sebelum melantur lebih jauh, saya ingin menyudahi post ini. Mungkin dalam beberapa bulan ke depan saya akan menyadari betapa alay dan noraknya saya membuat post ini tapi for the sake of 'good' memories, saya tidak akan menghapusnya.