Hallo, saya masih hidup! Sejujurnya blog ini isinya random
banget. Jadi saya sudah menemukan hal yang mau saya post, nggak penting sih,
yaitu teman sebangku saya saat SMP. Zaman SMP guru masih punya hak untuk mengatur
tempat duduk kami, namanya juga masih SMP. Saya duduk sama seorang cowok yang
datang dari luar Sumatera Utara. Dia lucu dan pintar, herannya kenapa peringkatnya selalu di
bawah saya. Mungkin karena waktu itu saya terlalu mematuhi peraturan, jadi
gadis yang baik di depan guru, rajin, dan manis. Yah manis (jangan muntah,
please). Sedangkan dia, dia cowok, sedikit nakal, tapi baik, hidup untuk
melanggar beberapa peraturan, dan tidak peduli dengan peringkat. Singkatnya, saya
senang duduk bersamanya. Saya sering mengejeknya, memarahinya, mencubit
lengannya (ya Tuhan ini terdengar memalukan), menasihatinya, dan bersikap
seolah-olah saya yang paling baik. Tapi dia hanya tertawa, tersenyum, dan
semacamnya. Saat ini saya yakin, saya ingin sekali memarahi saya yang dulu yang
kelewatan sok perfect.
Saya nggak tahu mengapa akhirnya
saya jadi selalu memperhatikannya. Saya ingin seperti dia, selalu tertawa dan
bahagia. Dia punya 1 abang, 1 kakak, dan 1 adik perempuan yang benar-benar
mirip dengannya. Dilihat dari fisik, dia nggak tampan. Jelek bisa dibilang tapi
saya suka mata yang besar. Suatu hari saya pernah mencubit lengan atasnya, lalu
dia kesakitan. Saya tahu dia berpura-pura tapi saya tetap ingin melihat bekas
cubitan di lengannya. Saat saya pegang tangannya dan menaikkan lengan bajunya,
ternyata lengannya biru! Ya ampun, saya langsung megap-megap. Saya langsung
bilang “sorry, sorry. Maaf. Sakit ya?” dan semacamnya. Lalu dia tersenyum dan
bilang “nggak apa-apa. Ini dicubit abangku.”
Saat itu saya nggak yakin dengan jawabannya, masa iya abang adek
cubit-cubitan, kedengarannya aneh untuk cowok… Tapi karena saat itu pelajaran
sudah dimulai, jadi saya biarkan saja.
Yah, saya jadi selalu
memperhatikannya dan menjadi sedikit tertarik padanya. Saya tahu dia selalu
sarapan roti, dia selalu memainkan jarinya di meja saat menyelesaikan soal
aljabar, dan bahkan saya tahu dia mengganti seragamnya dua hari sekali (oh
merlin, aku kedengaran seperti stalker). Bahkan saat pelajaran biologi, saat
itu si guru sedang menjelaskan bakteri dan berakhir pada nasihat harus mengganti
seragam tiap hari, saya tiba-tiba menunjuk mahluk manis (manis!?) di sebelah
saya dan mengatakan dia tidak pernah mengganti seragamnya! Saya yakin
teman-teman saya dan dia sendiri heran kenapa saya bisa tahu!! Saat itu saya
hanya berharap muka saya nggak memerah sehingga tidak ada orang yang tahu kalau
saya selalu memperhatikannya.
Dia ikut ekskul basket dan saya
ikut paduan suara, yah tipikal orang sok perfect. Saya suka melihatnya pakai
sepatu basket, entah kenapa kelihatannya dia jadi semakin dewasa. Guru sering
menjodoh-jodohkan kami, tapi tetap saja dia hanya tersenyum dan tertawa! Saya
benci melihatnya setenang itu menghadapi orang lain sedangkan wajah saya sudah
merah dan panas, jadi semakin mudah diejekin. Sejujurnya dulu wajah saya mudah
sekali memerah, untungnya sekarang nggak lagi. Asal orang-orang menjodohkan
kami, saya selalu marah-marah nggak jelas dan menentangnya. Ya ampun please,
diriku yang dulu, keep calm. Nggak tahu kenapa saya jadi senang sekali dan
ingin loncat-loncat kegirangan tiap kali dekat dengannya. Namun, saya tetap
benci padanya. Benci melihat dia selalu tertawa melihat tingkah saya, benci
mengapa saat dia seperti itu dia terlihat jadi dewasa dan saya hanyalah
anak-anak yang menjengkelkan.
Saya jadi merasa nyaman duduk di
bangku itu, padahal awalnya saya menolak duduk bersamanya. Saya senang tiap
kali pelajaran mulai dan saya tidak senang mendengar bel istirahat ataupun bel
pulang karena berarti saya harus meninggalkan bangku itu. Saya senang
menendangi kakinya saat pelajaran sedang berlangsung, saya senang mencoret
bukunya dan tangannya, tapi saya tidak senang saat dia memberikan stipo pada
jam tangan baru saya! Saat itu saya sedang asyik mencatat dan dia, yang duduk
di sebelah kanan saya, mengambil tangan saya (saya memakai jam tangan di
sebelah kanan dan saya bukan kidal) dan menghancurkan kesempurnaan jam saya!
Saat itu saya mau menangis tapi dia langsung tertawa dan bilang “kan nggak
apa-apa.sudahlah…”
Dia sedang tertawa dengan
beberapa teman cowoknya di kelas. Lalu saya heran dan bertanya padanya apa yang
lucu. Dia tidak memberitahu saya. Jadi saya bertanya pada teman yang lain. Lalu
cowok yang figurnya seperti tiang listrik itu menjawab, “udahlah, liv, kau
nggak perlu tahu. Nanti kau sakit jantung dengarnya.” Lalu mereka tertawa lagi
dan aku semakin ingin tahu dan mendesaknya. Akhirnya dia menjawab, “si Rai suka
samamu!” dan mereka tertawa. Saya heran, apa yang lucu. Apa saya begitu aneh
untuk disukai orang lain? Saya nggak senang dia tertawa bahagia begitu.
Sebagai anak SMP yang normal,
saya juga tertarik untuk mengejek-ngejek nama bapak orang. Sayangnya, nama
bapak saya sudah tersebar duluan dan dia berhasil mengejek saya lebih dulu.
Suatu saat, saya melihat dia membawa rapot dan meletakkannya di dalam laci meja
dan saat istirahat, secepat ninja saya merogoh lacinya dan membuka rapotnya.
Gotcha!
Suatu hari, wali kelas kami
menukar tempat duduk lagi. Saya kesal karena saya pisah dengannya tapi yah…
saya pura-pura senang akhirnya bisa pisah darinya. Sejak saat itu semuanya
berubah. Dia tetap seperti dulu tapi saya tidak menghabiskan waktu dengannya
sebanyak dulu. Semuanya semakin berubah saat kami naik kelas. Dia semakin jauh.
Saya selalu berusaha mencari perhatiannya tapi yang ada malah saya jadi menarik
perhatian orang lain! Kesal. Saat kelas 2, saya tahu ada beberapa orang yang
diam-diam tertarik pada saya. Ada beberapa teman sekelas dan ada beberapa abang
kelas. Kesal… Kenapa sih dia nggak termasuk yang beberapa itu! Lebih kesal lagi
saat hari Valentine. Saya terus berusaha menarik perhatiannya tapi dia nggak
sadar! Yang ada malah salah satu abang kelas berusaha mengejar saya (walau saya
sudah berlari dan bersembunyi) dan memberikan saya coklat dan surat cinta,
ieuh. Sialan, saya jadi nggak bisa tidur hari itu dan muka saya terus merah
sampai-sampai dikira sakit.
Saat kelas 3, dia benar-benar jauh, bahkan tidak
terjangkau (lebay). Saya tahu dia sedang mengincar adik kelas. Saya makin kesal
dan sedih tapi tetap saja saya pura-pura senang. Kesal! Tiap kali adik itu
lewat depan kelas, pasti teman-teman cowok yang lain menyebut-nyebut nama
mantan teman sebangku saya ini. Darah saya benar-benar mendidih saat itu. Saya
selalu ingin mencari perhatiannya tapi kenapa malah selalu orang lain kenapa
bukan dia! Yang lebih mengesalkan lagi, dia berencana menyatakan ketertarikanya
pada si adik ini saat acara perpisahan! Saya melihat dia berdiri di tangga
gedung itu bersama adik itu dan beberapa sekutu mereka. Saya nggak sanggup
melihat ke tangga dan saya harus menolak keinginan untuk mengasihani diri saya di
kamar mandi. Selama di atas panggung, saya terus berpikir apakah adik itu
menerimanya, apakah dia berhasil, dan akhirnya saya tahu dia tidak berhasil.
Yes! Cerita saya ini berakhir dengan sad ending. Saat SMA, saya pindah ke
sekolah lain dan dia tetap melanjutkan sekolahnya di sana. Yang saya tahu, adik
kelas yang diincarnya itu sudah berpacaran dengan abang kelas kami. Syukurlah…
Saat ini dia kuliah di luar kota dan saya tetap berharap untuk bertemu
dengannya lagi walau kemungkinannya kecil. Saya nggak tahu saya masih tertarik
dengannya atau tidak karena saat ini saya tidak merasakan apa-apa lagi setelah
masa-masa indah saat SMP. Anw, Happy Birthday!
No comments:
Post a Comment